Sukses Digelar, Ulang Tahun Ke-14 Kongres Advokat Indonesia, Pratiwi Sulistiowati : “Saatnya Profesi Advokat Bersatu Dan Menghargai Profesionalisme Advokat Dalam Menjalankan Profesinya!”

0
68

ArenaNews.id, -Jakarta- Hukum mencakup banyak aktifitas dan ragam aspek kehidupan manusia. Penggunaannya merefleksikan terjadinya keragaman “Permainan Bahasa”. Yang lebih penting dari sekedar “Permainan Bahasa” adalah hukum yang harus mempunyai “Rasa Keadilan” bagi seorang praktisi hukum. Seseorang praktisi hukum harus memahami apa yang dimaksud dengan “Bantuan Hukum” yang tidak hanya mementingkan komesialisasi advokasi hukum.

Advokasi adalah sebuah profesi yang sudah ada sejak zaman Yunani. Kemunculannya sebagai Profesi Terhormat (Officium Nobile) yang membela rakyat tertindas oleh para bangsawan dan raja raja. Masa abad pertengahan (masa Romawi) profesi ini makin berkembang. Di Indonesia, advokat masuk pada masa penjajahan Hindia Belanda dan telah berdiri sekolah hukum buat pribumi. Pada masa kemerdekaan, advokat pribumi sudah mulai eksis. Pada masa Orde Lama, muncul organisasi Persatuan Advokat Indonesia (PAI) pada tanggal 14 Maret 1963. Kemudian melebur menjadi Persaduan Advokat Indonesia (PERADIN) pada tanggal 30 Agustus 1964. Pada masa Orde Baru, dinamika organisasi advokat semakin meruncing sampai sekarang.

Organisasi advokat dengan dinamikanya menjadikan banyak versi organisasi advokat sehingga ada keinginan dari Multi Baar menjadi Single Baar. Perkembangan selanjutnya konsep Single Baar tidak memungkinkan terjadi sehingga secara de fakto Organisasi Advokat kembali menjadi Multi Baar.

Pratiwi Sulistiowati, Ketua DPD DKI Perkumpulan Pengacara Islam dan Penasehat Hukum Islam Indonesia (PPIPHII) PPIHPI saat menghadiri Ulang Tahun Ke 14 Kongres Advokat Indonesia.

Pratiwi Sulistiowati, Ketua DPD DKI Jakarta Perkumpulan Pengacara Islam dan Penasehat Hukum Islam Indonesia (PPIPHII) yang turut menghadiri agenda ulang tahun ke 14 Kongres Advokat Indonesia, memaparkan bahwa agenda Ulang Tahun ke 14 Kongres Advokat Indonesia (KAI) ini adalah sebuah agenda yang memiliki momentum yang tepat untuk menyatukan kembali visi dan misi Kongres Advokat Indonesia secara umum.

Pratiwi Sulistiowati selaku Ketua DPD PPIPHII bersama dengan tim, saat menghadiri Ulang Tahun Ke-14 Kongres Advokat Indonesia.

“Seperti kita ketahui, Kongres Advokat Indonesia adalah Organisasi Profesional yang mewadahi Advokat dalam menjalankan profesi Advokat, sayapun juga adalah Advokat, jadi saya rasa keprofesionalan sebagai kunci utama dari seorang Advokat harus tetap dijunjung tinggi, selain secara personal Advokat itu harus pula menjunjung tinggi hukum dan aspek yang melekat di dalamnya,” terang Pratiwi Sulistiowati.

Pratiwi Sulistiowati, Ketua DPD DKI Jakarta PPIPHI Berfoto Bersama Advokat Senior O.C Kaligis Pada Ulang Tahun Ke-14 Kongres Advokat Indonesia (KAI)

“Adapun rasa kebersamaan, saling menghargai sesama advokat adalah kunci sukses seorang Advokat dalam menjalankan praktek hukum secara adil dan tidak memihak, karena seperti diketahui, Advokat sebagai Pilar ke empat dalam hukum selain Hakim, Jaksa dan Kepolisian harus menjunjung rasa keadilan itu, dimana dalam Undang-Undang Nomer 18 tahun 2003 dipaparkan bahwa hakikat, hak dan kewajiban Advokat adalah Advokat bebas mengeluarkan pendapat atau pernyataan dalam membela perkara yang menjadi tanggung jawabnya di dalam sidang pengadilan dengan tetap berpegang pada kode etik profesi dan peraturan perundang-undangan,” pungkas Pratiwi Sulistiowati pada ArenaNews.id.

Pratiwi Sulistiowati, Ketua DPD DKI Jakarta PPIPHII Berfoto Bersama Presiden Kongres Advokat Indonesia (KAI) saat Ulang Tahun Ke-14 Kongres Advokat Indonesia (KAI).

Di tempat yang sama, Aprilia Sumalianto, selaku Vice President Kongres Advokat Indonesia di hadapan media cetak dan elektronik menyatakan bahwasanya terkait dengan adanya polemik antar organisasi di Indonesia, memberikan pernyataannya, yakni, “Kita akan mengambil inisiatif persatuan ini, karena jujur harus sama-sama kita akui, banyak pimpinan organisasi advokat dan para senior saat ini mengalami apriori apatisme terhadap persoalan-persoalan yang mengurus dan menyangkut kehidupan organisasi advokat. Tentunya, kamu tidak ingin seperti itu, kalau bukan kita yang memikirkan, maka siapa lagi. Kita berpikir bahwa kita memikirkan siapa kita saat ini, tetapi apa dan bagaimana organisasi advokat itu kedepannya, itulah yang kami pikirkan,”

Aprilia Sumalianto, Vice Presiden Kongres Advokat Indonesia saat menghadiri dan memberikan Pernyataan Pada Ulang Tahun Le-14 Kongres Advokat Indonesia.

Beberapa tokoh (hasil wawancara) menginginkan perubahan Undang-Undang advokat nomor 18 tahun 2003 dan dibentuknya Dewan Etik Nasional advokat. Ada 8 organisasi advokat pada masa awal dan sekarang lahir organiasi advokat sebanyak 50 lebih OA yang perlu regulasi aturan Organisasi Advokat.

(Bar/AYA/Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini